Tempurung kelapa merupakan satu pilihan sebagai sumber bahan bakar dan pekerjaan bagi sebagian warga yang tidak mampu di Kamboja. Diharapkan skema energi hijau terbarukan ini akan menghentikan penebangan pohon disepanjang daerah hutan yang luas di Kamboja untuk pembuatan arang. Arang merupakan bentuk bahan bakar yang digunakan oleh jutaan penduduk Kamboja.
Dimulai pada bulan Januari 2010, sebuah perusahaan nirlaba di ibukota telah membuat bahan bakar briket yang terbuat dari sisa sabut kelapa yang sudah tidak dipakai lagi. Pada saat yang sama, hal merupakan suatu insiatif untuk menciptakan lapangan kerja bagi penduduk miskin atau tidak mampu. Proyek ini menangani begitu banyak masalah besar yang ada di Kamboja pada saat yang sama. Pabrik briket dibangun disebelah tempat pembuangan kota Phnom Penh. Pekerja pabrik berjumlah empat belas orang yang dulunya menjadi pemulung. Bagi mereka, proyek ini sangfat membantu. Pabrik bekerja dengan penjual kelapa untuk mengumpulkan tempurung yang sudah tidak terpakai.Apabila sudah kering dan dihancurkan, tempurung kemudian di karbonisasi dengan menggunakan pembakar yang didisain khusus. Tambahan panas yang didapatkan dari proses karbonisasi diambil dan digunakan kembali untuk mengeringkan briket, yang memaksimalkan efisiensi energi. Bentuk pipa atau tabung dari briket membuat produk ini menjadi lebih efektif dari arang tradisional. Briket ini akan terbakar lebih lama tanpa percikan, bau dan asap. Perusahaan mengklaim bahwa mereka telah mencegah kurang lebih 1,600 ton gas rumah kaca yang memasuki atmosfir setiap tahunnya, dimana pada saat yang sama membantu dalam melindungi hutan-hutan alam di Kamboja. (http:www.china.org.cn)
Sumber: Cocommunity, Vol. XLI No. 11, 1 November 2011




